Berita Terbaru

Polres Tabanan Sembahyang Siwaratri, Introspeksi Diri Wujudkan Revolusi Mental

polres-tabanan-dharma-wecana-siwa-latriDalam rangka pembinaan mental spiritual personel dan untuk meningkatkan srada bakti kepercayaan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, pada hari Jumat tanggal 8 Januari 2015 yang juga bertepatan dengan Hari Raya Siwalatri, Polres Tabanan yang beragama Hindu melaksanakan kegiatan persembahyangan bersama Malam Siwaratri di Pura Padmasana Kertha Bhuana Polres Tabanan.

Persembahyangan bersama dilaksanakan pukul 20.00 wita, dipimpin oleh Jero Mangku Pura Padmasana Kertha Bhuana Polres Tabanan Jero Mangku I DEWA NYOMAN SUTA dihadiri Kapolres Tabanan AKBP PUTU PUTERA SADANA, SIK, MHum, MM bersama keluarga, Kabag Sumda Polres Tabanan KOMPOL I NYOMAN SUSILA, SH, Para Kabag, Para Kasat, Perwira staf, anggota Polres Tabanan dan anggota PNS yang beragama Hindu.

Seperti persembahyangan pada umumnya persembahyangan Siwaratri didahului dengan Puja Trisandya dan dilanjutkan dengan Persembhayangan Asta Sembah sesuai dengan konsep Persembahyangan Siwalatri yang diakhiri dengan Nunas Air Suci (Tirta) yang di berikan oleh Jero mangku Polres Tabanan.

Ada yang Spesial dalam Persembahyangan Siwaratri ini. Polres Tabanan mengundang penceramah (Dharma Wecana) dari Kementrian Agama Kab. Tabanan I WAYAN WIRTA yang sengaja diundang untuk memberikan pemahaman tentang Hari Raya Siwaratri dalam kaitannya pelaksanaan Tugas Polri.

Terkait dengan hal tersebut Dharma Wecana yang mengambil tema “Hidup Adalah Perjuangan” ini disampaikan beberapa pemahaman tentang pelaksanaan Hari Raya Siwaratri. Malam Siwaratri dilakanakan setahun sekali pada purwaning tilem ke pitu ( panglong kaping 14 sasih kepitu ), di buana agung merupakan malam yang paling gelap, diantara gelapnya malam, yang mengandung makna malam renungan suci atau suatu kegiatan untuk melebur kegelapan hati menuju jalan yang terang.Sedangkan di buana alit kegelanpan terjadi karena pikiran dikuasai oleh Dasendrya sehinga melahirkan manusia yang menghubar hawa nafsu, untuk mengatasi hal tersebut dengan jalan Brata Siwaratri yang meliputin : JAGRA , UPAWASA, MONO BRATA DAN DANA PUNNYA.

  1. Jagra : berjaga, bangkit  atau tidak tidur,  dalam siwa tatwa disebut atanghi ( sadar ), secara singkat dapat dikatakan bahwa manusia yg dibelenggu raga indriyanya dinyatakan sebagai orang aturu ( tidur ) sehingga orang itu disebut papa yang berarti tidak sadar / tidak ingat.
  2. Upawasa : berpuasa ( tidak makan ), lebih jauh diartikan pengendalian diri terhadap makanan dan minuman, manusia diharuskan mencari makanan dengan jalan yang benar dan memakan makanan yg berguna bagi kesehatan jasmani dan rohani (  jangan asal makan ).
  3. Mono brata : tidak bicara, dalam artian agar setiap orang berbicara berdasarkan kesadaran diri. karena bicara akan memperoleh kebahagian, sebaliknya kerana bicara mendapat kesusahan / kematian. dengan demikian mono brata bukan semata-mata diam, namun lebih jauh yaitu berbicara berdasarkan atas kesadaran diri. perihalah lidah agar bicara bisa lembut tanpa menyinggung perasaan orang lain.

Dari uraian diatas jagra, upawasa, mono brata, hakekatnya adalah  penyucian diri untuk mencapai kesadaran diri dengan pemusatan rohani kepada siwa. Lubhaka berarti Pemburu, dalam kisah Lubdhaka diceritrakan seorang pemburu binatang/Sattwa, binatang yang diburu Gajah, Babi hutan, badak, semua itu mengandung makna arti (gajah bermakna stiti bakti, Babi sama dengan waraha bermakna penganugrahan, Badak atau warak bermakna tujuan ), kita semua tergolong pemburu,  ada yg pemburu darma, arta dan kama,  namun yang umum merupakan pemburu diartikan adalah orang memburu sattwa / binatang. Sattwa berasal dari kata sat yang berarti inti yang mulia atau hakekat, sedangkan twa berarti sifat, dengan demikian lubdhaka berrati orang yang selau mengejar hakekat inti kebenaran / yang mualia. Jadi malam siwalatri dapat disimpulkan suatu kegiatan memburu hakekat kebenaran, dengan pikiran yang dijiwai oleh budhi sattwan senantiasa melakukan perbuatan yg didasari astiti bakti dengan tujuan untuk mendapatkan waranugraha ida hyang widhi.

Dalam Dharma Wecana ini beberapa hal yang ditekankan terkait dengan Tema yang disampaikan yaitu Ada 3 hal yang harus diingat oleh Umat Hindu dalam menjalani kehidupan ini diantaranya Selalu Ingat pada diri sendiri, selalu ingat dengan Asal / Kawitan dan selalu ingat dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Dalam Menjalani kehidupan harus menyempatkan diri dengan hal-hal yang positif diantaranya menyempatkan diri untuk sembahyang, berdiam diri sejenak, merenung, berdana, belajar, berolah raga, tertawa dan bermain sehingga Rohani maupun jasmani tetap sehat sehingga dalam menjalani kehidupan dapat berjalan lancar dan selalu berkarma baik untuk mencapai tujuan dari Umat Hindu yaitu Moksartam Jagadhita Yacaiti Dharma.

Kegiatan Dharma Wecana berakhir pada pukul 10.00 Wita. kegiatan persembahyangan selesai dan dipersilahkan bagi umat yang ingin melanjutkan jagra untuk melaksanakan persembahyangan ke 2 pada pukul 12.00 Wita dan persembahyangan ke 3 pukul 06.00 Wita. Dalam Persembahyangan ini juga diadakan Dharma Ghita / Pesantian yang dipersembahkan oleh Sekhaa Santhi Polres Tabanan.

Diharapkan dengan diadakannya persembahyangan ini anggota Polres Tabanan khususnya yang beragama Hindu dapat memahami makna dari Hari Raya Siwaratri dan dapat mengintrospeksi diri dan dapat mengimplementasikan dalam pelaksanaan tugas sebagai pelindung, pengayom dan pelayan masyarakat, sehingga Polri kedepan lebih baik sebagi wujud nyata Revolusi Mental.

Facebook Comments